Embun menggantung dalam pucuk daun yang ia percayai dan ia pegang kuat. Namun pagi hari saat mentari menyapa dengan sinar yang perlahan terang. Namun saat ia sadar bahwa mentari harus bersinar, ia harus beranjak dari pucuk daun yang ia gantung.
Ia, embun tahu ia harus beranjak dari pucuk daun. Ia tahu harus melepas seperti anak ayam yang telah dewasa yang mencari makan sendiri. Jatuh untuk meneteskan segarnya pada bumi yang segar. Jatuh yang awalnya memang sakit dan berair mata. Hingga akhirnya ia tahu bahwa itu adalah bagian dari perjuangan. Sakit dan air mata. Namun akhirnya ia tahu hasilnya untuk bumi. Segar dan lembab, tak lagi gersang.
Embun, seorang yang tengah bertanya pada dirinya, pada langit, pada gunung, pada laut, pada angin, pada apapun yang ditemuinya. Meminta jawaban pada alam dan dunia. Tak mampu dipungkiri bahwa ia sangatlah bimbang dan galau.
Semua rencana Tuhan yang Maha Adil dan selalu mengerti akan cita-cita yang didamba setiap makhluk, termasuk embun. Sesosok malaikat yang ia dambakan hadir. Berbagai fenomena, berbagai cerita, berlarut namun pasti ia jalani bersama malaikat tak bersayap itu.
Membunuh rasa yang tak perlu, menyiksa perih dalam hati yang takutnya akan menjadi bom waktu.
Aku, manusia yang harus merelakan sebelah sayapku patah dan hanya ruhnya yang menemani. Tak menyangka, aku akan berjumpa pada kisah sayap patah Kahlil Gibran. Cobalah aku akan membuka hikmah dibalik sayapku yang patah. Bolehlah nanti tak ada yang menyerupai sayap ini. Tapi yakinlah, embun...kau akan menjadi manusia. Kau tak harus memikirkan apapun yang tak perlu.
Taraf Mr.Manajemen yang sebentar lagi akan berada pada taraf Mr.Tombak__
Aku rindu saat gersang ini menjadi subur di tahap pertama. Aku akan berada pada tahap kedua.